Senin, 30 Juni 2014




Toksilogi Logam Berat  HG (Merkuri)


Kasus :
Pada tanggal 21 April 1956, seorang anak perempuan berumur 5 tahun 11 bulan diperiksa pada Bagian Anak Rumah Sakit Perusahaan Chisso. Gejala utamanya bersifat neurologik, termasuk adanya kesulitan berjalan dan berbicara, serta kejang-kejang. Pasien ini dikirim ke rumah sakit 2 hari kemudian, pada tanggal 23. Di hari yang sama ketika ia dikirim ke rumah sakit, adik perempuannya, 2 tahun 11 bulan, mulai mengalami kesulitan berjalan dan menggerakkan kakinya, serta mengeluhkan nyeri pada lutut dan jari-jarinya. Ia kemudian dibawa ke Bagian Anak pada tanggal 29, untuk pemeriksaan dengan gejala yang serupa dengan kakaknya. Daerah di mana pasien ditemukan pertama kali berada di ujung sebuah teluk kecil, di mana beberapa rumah berdiri berhimpit satu dengan yang lain. Diperoleh fakta ternyata tidak hanya kedua anak perempuan di atas yang mengalami gejala tersebut, tetapi tetangga mereka juga mengalaminya, yang selanjutnya anggota keluarga yang lain jatuh sakit satu demi satu, sehingga pada akhirnya semua anggota keluarga terjangkit Penyakit Minamata. Penyakit Minamata ini mendapat namanya dari kota Minamata, Prefektur Kumamoto di Jepang, yang merupakan daerah di mana penyakit ini mewabah mulai tahun 1958. Pada waktu itu terjadi masalah wabah penyakit di kota Mintamana Jepang. Ratusan orang mati akitbat penyakit yang aneh dengan gejala kelumpuhan syaraf. Penyakit Minamata atau Sindrom Minamata adalah sindrom kelainan fungsi saraf yang disebabkan oleh keracunan akut air raksa. Gejala-gejala sindrom Minamata ini seperti kesemutan pada kaki dantangan, lemas-lemas, penyempitan sudut pandang dan degradasi kemampuan berbicara dan pendengaran. Pada tingkatan akut, gejala ini biasanya memburuk disertai dengan kelumpuhan, kegilaan, jatuh koma dan akhirnya mati.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Penyakit_Minamata)

Asal Mula Pencemaran Logam Berat Di Teluk Minamata Jepang:
Penyakit pada manusia akibat polusi lingkungan tak pernah mengalami penjangkitan bersama secara tiba-tiba. Hal ini terjadi setelah mengalami perubahan-perubahan berjangka waktu lama pada lingkungan. Hal ini bisa dikatakan terjadi pula pada kasus Minamata. Di tempat ini, sekitar awal tahun 1925-1926, dampak pada industri perikanan telah muncul. Saat ini sudah dapat dipastikan bahwa Chisso (dulunya bernama Nitchitsu) merupakan sumber pencemarannya. Minamata disebut sebagai ”kota istana” dari Chisso (Shin Nihon Chisso Hiryo Kabushiki Kaisha atau New Japan Nitrogenous Fertilizer, Inc.). Pada tahun 1908, Nihon Carbide Company didirikan. Pada tahun yang sama, perusahaan itu mengadakan merger dengan Sogi Electric dan nama perusahaan itu berubah menjadi Nihon Chisso Hiryo Kabushiki Kaisha (Japan Nitrogenous Fertilizer, Inc.).
Pada tahun 1909, perusahaan itu meraih sebuah hak paten untuk produksi pupuk nitrigenus dengan menggabungkan kalsium karbid dengan nitrogen atmosferik, yang kemudian dikembangkan pada suatu perusahaan elektrokimia dengan skala besar. Seiring dengan majunya industri kimia, Chisso memperluas operasinya termasuk di dalamnya sintesis amonia, produksi kalsium karbid dari asetilen, asetaldehida, dan asam asetat, produksi resin vinil klorida dari asetilen, sintesis oktanol dari asetaldehida, dan banyak lagi, sehingga pabrik Chisso Minamata merupakan yang paling maju di Jepang baik sebelum maupun sesudah Perang Dunia II. Dengan demikian, polusi lingkungan akibat pembuangan limbah yang tidak dapat dielakkan dari pabrik seperti itu, memang juga memiliki riwayat panjang. Makanya, perusahaan tersebut menerima sejumlah permintaan kompensasi dari kelompok nelayan sekitar tahun 1925 atau 1926. Agar tidak ada keluhan lebih lanjut yang bisa diajukan ke pengadilan, Chisso membayar 1500 yen sebagai ”uang simpati”.
Pada tahun 1943, isu tentang dampaknya terhadap perikanan kembali dimunculkan dan membuat perusahaan menandatangani kontrak kompensasi bersama kelompok nelayan. Bagian utama dari perjanjian tersebut adalah pembayaran kompensasi sebesar 152.000 yen atas kerusakan sebelumnya dan yang akan datang yang disebabkan oleh limbah pembuangan dari pabrik, berbagai macam residu, dan sampah ke laut di mana kelompok nelayan tersebut memiliki izin menangkap ikan.
Tingkat pencemaran saat itu tidak diketahui, namun fakta bahwa tuntutan semacam itu pernah ditujukan kepada Chisso, penguasa Minamata pada saat itu, memberi kepastian bahwa kerusakan yang signifikan memang telah terjadi.
Setelah perang, pada tahun 1949, Perhimpunan Nelayan Minamata dibentuk dan kelompok yang lama dibubarkan. Begitu selesai dibentuk, kelompok baru itu kemudian menjadikan isu dampak perikanan kembali terangkat ke permukaan, namun perundingan kompensasi tidak menghasilkan keputusan dan masalah itu pun kembali tenggelam. Para nelayan tahu bahwa saat itu semakin sulit untuk menangkap ikan karena jaring mereka rusak akibat limbah karbid, dan bahwa kepah tak lagi menempel pada badan perahu yang ditambatkan dekat saluran pembuangan limbah pabrik, dan ikan tidak dapat hidup di dalam air dari Pelabuhan Hyakken. Meski begitu, pihak perusahaan tidak mau mendengar mereka, dan berdalih bahwa fakta-fakta tersebut tidak ilmiah dan tidak didukung oleh data-data. Namun pengetahuan para nelayan yang berdasar dari pengalaman dan bukti-bukti sebenarnya cukup ilmiah.
Selanjutnya, pada tahun 1954 perusahaan meminta hak atas daerah Hachiman kepada kelompok nelayan dalam rangka reklamasi lahan, kelompok nelayan meminta 500.000 yen per tahun sebagai kompensasi atas kerusakan terhadap perikanan sebelumnya dan yang akan datang. Perusahaan ini, walaupun mengakui bahwa memang telah terjadi kerusakan terhadap perikanan (dalam bentuk kurangnya tangkapan), tetap menegosiasikan ketentuan bahwa tidak ada tuntutan lebih lanjut, bahkan jika terjadi kerusakan di masa yang akan datang. Survei yang layak tentang kerusakan tidak pernah dilaporkan keluar dan tidak membutuhkan adanya pembelaan.



Solusi Dari Tragedi Tersebut:
a. Penutupan polutan dari sumber-sumber
Berkenaan dengan tanaman Chisso Minamata Co, Ltd, melalui penyelesaian sistem sirkulasi yang sempurna pada tahun 1966, air limbah yang mengandung senyawa methylmercury tidak pernah diberhentikan di luar pabrik pada prinsipnya, dan sumber polutan itu dihilangkan melalui penghentian produksi asetaldehida pada tahun 1968. In the Agano River basin the process of producing acetaldehyde had already closed before Minamata Disease was discovered. Di basin Sungai Agano proses produksi asetaldehida sudah ditutup sebelum penyakit Minamata ditemukan.
b. Pengendalian limbah
Pada tahun 1969, drainase dari limbah pabrik yang mengandung methylmercury ke Teluk Minamata regutated. Pada tahun 1970, Undang-Undang Pengendalian Pencemaran Air diberlakukan, yang dipaksakan kontrol pembuangan limbah air di semua daerah di Jepang, dalam hubungannya dengan zat-zat beracun, misalnya, merkuri dan cadmium. Selanjutnya, konversi metode produksi soda menyarankan agar tanaman yang mungkin pembuangan merkuri selain Showa Denko Chisso dan tanaman.
c. Pemulihan lingkungan
Karena cukup methylmercury tetap konsentrasi di bawah endapan dari air yang terkait dengan daerah-daerah bahkan setelah pelepasan dari senyawa methylmercury dihentikan, dalam rangka untuk menghilangkan endapan dasar ini, 1974-1990, Prefektur Kumamoto dilakukan untuk menangani proyek dengan sekitar 1.500.000 kubik meter dari bawah sedimen dari Teluk Minamata yang mengandung merkuri lebih dari standar penghapusan (25ppm dari total merkuri) dengan cara pengerukan dan TPA, dan untuk membuat 58ha. TPA, dengan total biaya 48 miliar yen (dari jumlah total, perusahaan yang bertanggung jawab menanggung 30.5 miliar yen). Pada tahun 1976, Prefektur Niigata dilakukan pengerukan dasar sungai sedimen yang mengandung merkuri lebih dari standar penghapusan drainase di sekitar outlet dari Showa Denko tanaman oleh beban perusahaan yang bertanggung jawab.

Selasa, 29 April 2014

Kisah Sepasang Tuna Netra Menghidupi Keluarga




Reporter : ods/bam
BERITABEKASI.CO,Kota Bekasi - Bagi warga di kawasan Jatiasih mungkin sudah tidak asing lagi dengan sosok sepasang suami istri yang berjualan kerupuk yang biasa berkeliling di Perumahan Pemda. Agus (50), dan Sarinah (35), bukan penjual kerupuk keliling biasa, dia adalah sepasang Tuna Netra. Di Kota Bekasi, dia tinggal bersama ke tiga anaknya di Jalan Sadewa no 28 blok B Komplek Pemda. Kelurahan Jatirasa, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat  meski memiliki keterbatasan fisik, namun dia enggan hidup dari belas kasihan orang lain. Mereka, berusaha menghidupi ketiga buah hatinya dengan berjualan kerupuk keliling, mengitari komplek-komplek yang berada di sekitar tempat tinggalnya, Minggu (29/9/2013). 
http://beritabekasi.co/fileuploadmaster/663020tuna%20Netra.jpg
http://beritabekasi.co/gambar/spacer.gif
Sepasang Tuna Netra berjualan kerupuk keliling (Foto/ods)
http://beritabekasi.co/gambar/spacer.gif
Agus dan Sarinah mengaku, berjualan demi menghidupi ketiga putra-putrinya, setiap pagi mereka bekeliling komplek dengan berjalan kaki hingga jarak 5 Km yang mesti ditempuh. Mereka, dapat menjual kerupuk dalam sehari 40 hingga 50 bungkus kerupuk. Namun, sejak kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) beberapa waktu lalu, yang berimbas pada kenaikan sejumlah harga kebutuhan pokok, membuat mendapatan mereka menurun drastis. Kini dalam sehari, mereka hanya mampuh menjual sekitar 20 bungkus dengan keuntungan bersih Rp20.000 hingga Rp30.000 perhari.
“Sudah dua tahun saya bersama istri berjualan kerupuk keliling disekitar komplek di Jatiasih,’’ katanya kepada beritabekasi.co, sembari melepas lelah seusai berkeliling menjajakan dagangannya disekitar komplek pemda.
Kondisi ini tak membuat Agus dan Sarinah menyesali nasib, namun mereka tetap bersyukur atas rezeki yang telah diberikan Tuhan, karena dari hasil berjualan kerupuk ini ia mampuh menyekolahkan ketiga anak-anaknya, meski hanya sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP).
“Saya hanya berharap ke tiga anak-anak saya kelak dapat hidup yang lebih baik dari pada orang tuannya yang hanya sebagai penjual kerupuk keliling,’’ ujarnya.
Sehari-hari, Pria asal Jawa tengah, ini ditemani sang istri berkeliling di sekitar komplek dekat-dekat rumahnya untuk menjajakan kerupuknya kepada warga. Ia mulai berkeliling dari pukul lapan hingga empat sore. Agus, terpaksa memilih berdagang kerupuk sesuai berhenti menjadi tukang pijat, kata dia, kerena kalah saing dengan panti pijat plus-plus yang marak di Kota Bekasi.
 “Ya kalau untuk sehari-hari enggak cukup, dirit-irit alhamdulillah saya bersyukur masi dapat menyekolahkan ketiga anak-anak saya dari pengahasilan berjualan kerupuk,’’ katanya.
Banyak suka duka yang dialami ke dua pasangan tuna netra, ini mulai dari para pembeli yang kadang kala membayar kurang hingga menabrak-nabrak saat berjalan kerena pada saat belum mengenal medan. Meskipun begitu, Agus dan Sarinah mengatakan masih banyak orang yang baik kepadanya. Mereka tetap menjalankan hidup sebagai pedagang kerupuk keliling.
“Ya suka dukanya pernah dialami, terkadang ada aja yang bayarnya kurang, tapi alhamdulillah, masih banyak orang yang baik suka kasih lebih diberikan ke saya uang kembaliannya,’’ tandasnya.

Opini
Secara etimologi kata tunanetra berasal dari tuna yang berarti rusak,netra berarti mata atau penglihatan. Jadi secara umum tuna netra berarti rusak penglihatan. Tunanetra berarti buta,tetapi buta belum tentu sama sekali gelap atau sama sekali tidak dapat melihat. Ada anak buta yang sama sekali tidak ada penglihatan,orang semacam ini biasanya disebut buta total. Disamping buta total, masih ada juga orang yang mempunyai sisa penglihatan tetapi tidak dapat dipergunakan untuk membaca dan menulis huruf biasa.
Mungkin kemampuan yang paling terpengaruh oleh ketunanetraan untuk berhasil dalam penyesuaian social individu tunanetra adalah kemampuan mobilitas yaitu ketrampilan untuk bergerak secara leluasa di dalam lingkungannya. Ketrampilan mobilitas ini sangat terkait dengan kemampuan orientasi, yaitu kemampuan untuk memahami hubungan lokasi antara satu obyek dengan obyek lainnya di dalam lingkungan seperti yang di alami oleh sepasang tuna netra bapak Agus dan ibu Sarinah ini beliau perlu beberapa bulan untuk beradaptasi dengan medan jalan yang harus dilaluinya untuk berjualan krupuk setiap hari
Pada dasarnya mereka tidak inggin bahawa kondisinya sepeti ini namun takdir berhendak lain ada beberapa factor penyebab terjadinya tuna netra diantaranya: Pre-natal dan Post-natal. Pada siapa pun masyarakat untuk menangapi dan merangkul seseorang penderita tuna netra seperti bapak Agus dan ibu Sarinah ini cobalah untuk berprilaku kemanusian  kepadanya jangan malah memanfaatkannya, sekecil apapun bantuan anda untuk menolongnya itu akan ada balasannya.
Betapa banyak manusia diluar sana yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang tanpa dia sadari jikalau dirinya itu masih sangaat kuat untuk bekerja yang lebih layak dibandingkan dengan harus mengemis tapa keterbatasan apapun yang menimpanya. Hal ini patut dicontoh bagi para penderita penyakit turunan seperti ini karna keterbatasan bukan lah suatu kendala untuk mewujudkan niat dan mimpi mu.
Sumber :
http://beritabekasi.co/page/kanal/?id=4820&subid=58&kanal=sosok&alias=Kisah%20Sepasang%20Tuna%20Netra%20Menghidupi%20Keluarga&page=detil

Senin, 31 Maret 2014

Gas 3 Kg Meledak, Sekeluarga Sekarat Terbakar di Cilincing
Added by Redaksi on 21/03/2014.
Saved under
HotNews, Kriminal, Peristiwa Hari Ini, Top News
NONSTOP,MELEDAK-
Lokasi Terjadinya Gas 3 Kg Meledak di Cilincing,Jakarta Barat .
Lokasi Terjadinya Gas 3 Kg Meledak di Cilincing,Jakarta Barat .
Naas menimpa satu keluarga di Jalan Kebantenan RT 03 RW 02, Kelurahan Semper Timur, Kecamatan Cilincing. Peristiwa ini menyebabkan ayah, ibu, dan 4 orang anaknya mengalami luka bakar. Para korban yang merupakan satu keluarga yaitu Itok (38), Ngadiarti (35), Kholifatus (10), Al Fath (7), Ganesha (5) dan Renayu (1,5).
Menurut Ito, peristiwa ledakan tersebut terjadi sekitar pukul 18.30 WIB. Saat itu istrinya, Ngadiarti (35) dan ketiga anaknya yaitu Kholifatus (10), Al Fath (7) , Ganesha (5), dan Renayu (1,5) habis pulang dari rumah orangtua Ito. “Kami saat itu habis pulang dari mbah-nya,” katanya di Rumah Sakit Umum Daerah Koja, Kamis (20/3).
Sesampainya di rumah, dirinya bersama istri dan ketiga anaknya tersebut kemudian sedang beristirahat di ruang keluarga. Namun, tidak bertahan lama kemudian tabung gas meledak. “Saya masih sadar dan menolong ketiga anak dan istri saya,” ucapnya.
Lalu setelah itu berdatangan tetangga yang ikut membantu korban. Ia mengakui, tidak seperti biasanya, setiap hendak bepergian dirinya selalu mencopot regulator gas. Namun setelah diingat-ingat ternyata hal tersebut yang menyebabkan terjadinya ledakan gas.
“Mungkin namanya musibah jadi seperti ini (meledak). Biasanya saya selalu melepas selangnya,” tandasnya.
Ia sendiri tidak mengetahui penyebab ledakan tersebut. Namun, ia menduga asal muasal ledakan berasal dari tabung 3 kilogram yang bermasalah. Sebab, sepengetahuan dia, selang dan regulatornya tidak bermasalah.
Saat ini kondisi rumah kontrakannya rusak parah. Ia juga tidak tahu kondisi ketiga anaknya yang sedang dirawat di tempat berbeda. Dua anaknya dirawat di lantai 5 RSUD Koja dan anak bungsunya kini luka parah dan dirawat intensif di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.(AGS)

Opini: sebetulnya hal eperti ini adalah kesalaha sipengguna dan mengakibatkan anakaya terluka parah begitu juga warga disekitartnya. hal yang harus di kembangkan dalam masalah ini sebaiknya regulator-regulator tabung gas di masa yang akan datang memiliki tanda peringatan apabila gas atau pun selangnya ada masalah jd sipengguna bisa tau dan bisa langsung mengecek dimana letak permasalah tersebut dan mencegah terjadinya hal-hal yang tidak di ingginkan seperti kasus diatas..

Sumber: http://www.nonstop-online.com/2014/03/gas-3-kg-meledak-sekeluarga-sekarat-terbakar-di-cilincing/

Selasa, 24 Desember 2013


Isi Hati yang sesungguhnya.
semua kan ku tuangkan disi hari ini detik ini..
      gw mengakui bahwa tak ada manusia yang sempurna di dunia ini termasuk gw. tapi kenapa si lo ga pernah bia berubah untuk menjadi seorang yang lebih baik dan dewasa, gw tuh sayang sama lo setulus hati gw apapun yang bisa gw bantu dan gw lakuain buat lo selagi gw masih sanggup dan mampu untuk melkakukannya pasti gw lakuin cuman buat loo apa semua yang udah gw lakuin tuh masih belum cukup membuktikan.
      gw akui lo udah berubah, tapi berubah lo bukan berubah seperti layaknya orang lain yang berubah akan suatu yang buruh berupa menjadi suatu yang baik. perubahan lo hanya perubahan sikap buruknya saja tanpa ada perbaikan dan tanpa ada niat untuk berubah menjadi baik menjadi sesosok mausia yang dewasa layaknya orang lain.
      apa sih sebernya tujuan lo selama ini...? jangan pernah merasa bahwa diri lo tuh lebih unggul di bandingkan dengan oprang lain. maih banyak wanita yang lebih segalanya dari lo tapi dia ga seperti lo. gw udah ga sanggup lagi kaya gini trus, harus sampe kapan gw tungguin lo buat bener-bener berubah karana gw. INGGET gw bisa tinggalin lo kapan pun gw mau...